Pemerintah AS juga mengumumkan putaran baru sanksi terkait Iran.
Departemen Keuangan AS menyatakan sanksi tersebut menargetkan upaya Teheran untuk "memonetisasi Selat Hormuz" melalui penetapan sanksi terhadap 10 entitas dan delapan kapal tanker tambahan.
Sementara itu, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara di kawasan.
Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar, memperkirakan harga minyak Brent masih bergerak fluktuatif di kisaran USD80 hingga USD100 per barel dalam waktu dekat, seiring konflik di Timur Tengah yang terus mengalami eskalasi dan mereda secara bergantian.
Di sisi lain, harga minyak juga mendapat dukungan dari prospek kebijakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+).
Sejumlah sumber Reuters menyebut kelompok tersebut kemungkinan menghentikan rencana kenaikan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober, setelah menyelesaikan pengembalian pasokan yang sebelumnya dipangkas secara sukarela. (Aldo Fernando)