IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melonjak pada perdagangan Kamis (6/8/2026), setelah muncul laporan bahwa komite parlemen Iran tengah mengkaji rancangan undang-undang yang melarang kapal Amerika Serikat (AS) dan Israel melintasi Selat Hormuz.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak Brent ditutup melesat 3,83 persen menjadi USD82,49 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,75 persen ke level USD77,29 per barel.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Fars, seorang anggota parlemen Iran mengatakan komite parlemen sedang meninjau rancangan undang-undang (RUU) awal yang melarang kapal AS, Israel, dan kapal lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz.
Rancangan aturan tersebut juga mengusulkan denda hingga 20 persen dari nilai muatan bagi pihak yang melanggar.
Senior Vice President of Trading BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan pelaku pasar minyak masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran.
"Trader minyak mentah masih fokus pada kesepakatan AS-Iran. Semakin lama prosesnya tertunda, semakin besar peluang harga kembali bergerak naik," ujarnya.
Sebelum konflik Iran pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari melewati Selat Hormuz, menjadikan jalur tersebut sebagai salah satu rute energi paling vital di dunia.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap "posisi militer Saudi" di wilayah Marib dan Hadramout pada Kamis.
Kelompok itu juga mengaku menewaskan atau melukai ratusan pejuang yang berpihak kepada Arab Saudi serta menghancurkan kamp militer, gudang senjata, dan kendaraan militer.
Partner Again Capital, John Kilduff, menilai pergerakan harga minyak masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di kawasan.
"Pasar bergerak naik turun mengikuti eskalasi dan meredanya ketegangan. Serangan ini menjadi perkembangan penting karena menunjukkan aktivitas konflik di kawasan lain di luar Teluk Persia serta mengingatkan bahwa jalur pelayaran Laut Merah masih berisiko terganggu," katanya.
Data pengiriman menunjukkan ekspor minyak mentah dan kondensat dari negara-negara Teluk relatif stabil sepanjang Juli, namun masih sekitar 40 persen di bawah level sebelum perang.
Sementara itu, menurut lima sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Iran telah memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru AS ke wilayahnya akan memicu serangan terhadap infrastruktur energi strategis di kawasan.
Langkah itu dinilai sebagai upaya Teheran meningkatkan biaya politik dan militer bagi Washington dengan mengancam sekutu-sekutu utamanya di Timur Tengah.
Kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengklaim pada Rabu telah meluncurkan serangan rudal terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat pelabuhan Yanbu di Laut Merah, serta serangan rudal lainnya terhadap kapal tanker Saudi di Teluk Aden.
Hingga kini, belum ada konfirmasi dari pemerintah Arab Saudi terkait kedua insiden tersebut.
Equity Research Analyst Julius Baer, Roberto Cominotto, mengatakan serangan Houthi sejauh ini belum menyebabkan gangguan signifikan terhadap pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut dapat berubah apabila intensitas serangan terus meningkat. (Aldo Fernando)