IDXChannel - Harga minyak melonjak lebih dari 3 persen pada Jumat (15/5/2026) setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran semakin meredupkan harapan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri serangan serta penyitaan kapal di sekitar Selat Hormuz.
Kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent ditutup di level USD109,26 per barel, naik 3,35 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berakhir di USD105,42 per barel, melonjak 4,2 persen.
Sepanjang pekan ini, Brent telah menguat 7,8 persen dan WTI melesat 10,5 persen di tengah ketidakpastian terkait gencatan senjata rapuh dalam perang Iran.
“Nuansa hubungan antara AS dan Iran kembali menjadi jauh lebih konfrontatif. Meski gencatan senjata masih bertahan, harapan pembukaan cepat Selat Hormuz mulai memudar,” tulis analis Commerzbank, seperti dikutip Reuters.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran “tidak percaya” kepada AS dan hanya tertarik bernegosiasi jika Washington benar-benar serius.
Ia menambahkan Iran siap kembali berperang, namun juga terbuka pada solusi diplomatik.
Trump mengatakan kesabarannya terhadap Iran mulai habis. Dia juga menyebut telah sepakat dengan Presiden China Xi Jinping bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan harus membuka kembali Selat Hormuz.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melintasi selat tersebut, yang menjadi jalur utama ekspor negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, dan Qatar.
Xi tidak memberikan komentar terkait pembicaraannya dengan Trump mengenai Iran, meski Kementerian Luar Negeri China merilis pernyataan resmi.
“Konflik ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi, tidak memiliki alasan untuk terus berlanjut,” kata kementerian tersebut.
Di antara sejumlah kesepakatan yang dinantikan pasar dari pertemuan puncak AS-China, Trump mengatakan China ingin membeli minyak dari Amerika Serikat. Ia juga menyebut kemungkinan mencabut sanksi terhadap perusahaan-perusahaan China yang membeli minyak Iran.
“Fokus pasar kembali tertuju pada kebuntuan dan blokade Selat Hormuz, dengan risiko lanjutan berupa eskalasi militer baru,” ujar Founder Vanda Insights, Vandana Hari.
Garda Revolusi Iran mengatakan 30 kapal telah melintasi selat tersebut antara Rabu malam hingga Kamis.
Jumlah itu masih jauh di bawah rata-rata normal sebelum perang yang mencapai 140 kapal per hari, tetapi tetap menunjukkan peningkatan signifikan jika terkonfirmasi.
“Semakin banyak kapal mulai melintasi selat tersebut, meski untuk saat ini dampaknya lebih terasa pada sentimen dibandingkan keseimbangan pasokan minyak secara nyata,” kata analis PVM, Tamas Varga.
Penutupan selat terjadi ketika cadangan minyak global mulai menipis.
“Dunia telah menghabiskan bantalan keamanan minyaknya dengan laju bersejarah,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, dalam sebuah catatan.
“Meski pelepasan cadangan strategis dan penurunan permintaan telah mencegah kekacauan langsung, ruang untuk kesalahan semakin menyempit. Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan mengarah pada pasar fisik yang lebih ketat, potensi kekurangan produk olahan, dan tekanan kenaikan harga dalam beberapa pekan dan bulan ke depan,” imbuh dia.
Perusahaan analisis pelayaran Kpler mengatakan pada Kamis bahwa 10 kapal telah melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir, dibandingkan hanya lima hingga tujuh kapal per hari dalam beberapa pekan terakhir.
“Minyak mentah diperdagangkan lebih tinggi karena kombinasi pertemuan Trump-Xi yang belum membawa kemajuan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz, serta serangan Ukraina yang terus berlanjut terhadap kilang Rusia,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen. (Aldo Fernando)