Sentimen positif juga datang dari sinyal Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang dinilai tetap berkomitmen menjaga disiplin produksi.
Pasar semakin memperkirakan kelompok tersebut akan menunda rencana pengurangan pemangkasan produksi sukarela demi menjaga stabilitas harga, sehingga prospek pasar minyak pada paruh kedua tahun ini diperkirakan tetap berada dalam kondisi pasokan yang ketat.
Di sisi permintaan, mengutip Trading Key, aktivitas industri di sejumlah negara berkembang menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan. Peningkatan target pengolahan kilang di Asia, ditambah tingginya konsumsi bahan bakar selama musim liburan, turut menopang prospek permintaan minyak.
Selain itu, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) akibat meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari negara lain.
Kondisi tersebut semakin mendorong kenaikan harga minyak.
Aksi beli teknikal dan penutupan posisi jual (short covering) ikut mempercepat penguatan harga dalam jangka pendek.