sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Menguat di Awal Pekan, Brent Tembus USD90

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
20/07/2026 06:50 WIB
Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga Minyak Menguat di Awal Pekan, Brent Tembus USD90. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Menguat di Awal Pekan, Brent Tembus USD90. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.

Berdasarkan data hingga Senin (20/7/2026) pukul 05.10 WIB, minyak mentah Brent menguat 2,73 persen ke level USD90,08 per barel. Dalam tujuh hari terakhir, harga Brent melesat 18,45 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,57 persen menjadi USD83,82 per barel pada pukul 05.15 WIB. Secara mingguan, harga WTI meningkat 17,33 persen.

Reli harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan melalui jalur pelayaran strategis.

Pelaku pasar mulai memasukkan premi risiko yang lebih tinggi ke dalam harga minyak di tengah kekhawatiran bahwa gangguan terhadap infrastruktur ekspor maupun rute pengiriman dapat mempersempit pasokan global.

Sentimen positif juga datang dari sinyal Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang dinilai tetap berkomitmen menjaga disiplin produksi.

Pasar semakin memperkirakan kelompok tersebut akan menunda rencana pengurangan pemangkasan produksi sukarela demi menjaga stabilitas harga, sehingga prospek pasar minyak pada paruh kedua tahun ini diperkirakan tetap berada dalam kondisi pasokan yang ketat.

Di sisi permintaan, mengutip Trading Key, aktivitas industri di sejumlah negara berkembang menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan. Peningkatan target pengolahan kilang di Asia, ditambah tingginya konsumsi bahan bakar selama musim liburan, turut menopang prospek permintaan minyak.

Selain itu, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) akibat meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari negara lain.

Kondisi tersebut semakin mendorong kenaikan harga minyak.

Aksi beli teknikal dan penutupan posisi jual (short covering) ikut mempercepat penguatan harga dalam jangka pendek.

Namun secara fundamental, reli minyak lebih banyak mencerminkan penyesuaian pasar terhadap meningkatnya risiko kekurangan pasokan.

Pelaku pasar kini menantikan laporan persediaan minyak mingguan serta perkembangan diplomatik di kawasan produsen minyak utama.

Dengan kondisi pasar yang dinilai masih ketat, gangguan pasokan tambahan berpotensi mendorong harga minyak naik lebih tinggi. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement