Keputusan ini diambil karena delapan anggota OPEC+, yang dipimpin Arab Saudi dan melakukan pemangkasan sukarela sejak 2023, ingin mendorong anggota lain yang kerap melebihi kuota produksi agar kembali patuh.
Arab Saudi sendiri menunjukkan kesediaan untuk menghadapi periode harga rendah demi menjaga solidaritas internal dan merebut kembali pangsa pasar yang hilang akibat peningkatan produksi dari produsen serpih AS dan negara non-OPEC lainnya.
“Dampak awalnya adalah pasokan minyak yang melimpah dan kemungkinan harga yang tertekan, disusul dengan perlambatan pertumbuhan produksi dari negara non-OPEC+, terutama sektor serpih AS,” kata PVM Oil Associates.
PVM Oil Associates menambahkan, hal tersebut juga meningkatkan tekanan maksimum terhadap Iran serta dukungan terhadap permintaan minyak, terutama jika kebijakan dagang AS tidak semakin memperburuk ekonomi global dan kepercayaan terhadap pemerintah AS yang saat ini tengah mengalami defisit kepercayaan, bisa perlahan dipulihkan.
“Karena tingginya ketidakpastian ekonomi makro saat ini, sulit untuk memprediksi seberapa besar penurunan harga minyak yang akan terjadi,” ujarnya. (Aldo Fernando)