Kedua acuan minyak tersebut sebelumnya sempat turun di bawah USD100 per barel pada sesi perdagangan sebelumnya, dengan WTI mencatat penurunan terbesar sejak April 2020 seiring optimisme bahwa gencatan senjata akan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
Namun, efektivitas gencatan senjata masih dipertanyakan setelah lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun jauh di bawah 10 persen dari volume normal pada Kamis.
Iran disebut mengendalikan situasi dengan memperingatkan kapal agar tetap berada di perairan teritorialnya, sementara harga beberapa minyak fisik mencetak rekor tertinggi baru.
Selat Hormuz menghubungkan pasokan dari produsen Teluk seperti Irak, Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar ke pasar global, serta biasanya mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Arab Saudi kembali muncul setelah kantor berita negara SPA melaporkan serangan telah memangkas kapasitas produksi minyak kerajaan sekitar 600.000 barel per hari dan menurunkan aliran pipa East-West sekitar 700.000 barel per hari.