Laporan tersebut sempat mendorong Brent dan WTI naik lebih dari USD1 per barel dalam perdagangan setelah penutupan.
Trader minyak berbasis Dubai Shohruh Zukhritdinov mengatakan pasar mulai menyadari bahwa meski Selat Hormuz dibuka kembali, fleksibilitas ekspor Arab Saudi tetap terganggu selama beberapa pekan.
“Sekarang dengan infrastruktur Saudi terkena serangan, pasar menyadari bahwa bahkan jika Hormuz dibuka besok, fleksibilitas ekspor Saudi akan terganggu selama berminggu-minggu,” ujarnya.
Israel juga dilaporkan membombardir lebih banyak target di Lebanon pada Kamis, yang berpotensi membahayakan gencatan senjata.
Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial Dennis Kissler mengatakan harga minyak mulai memulihkan sebagian kerugian hari sebelumnya karena lalu lintas di Selat Hormuz masih sangat terbatas dan jauh di bawah ekspektasi pasar.