sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Sawit (CPO) Melesat 8 Persen Pekan Ini

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
07/03/2026 14:15 WIB
Harga minyak sawit mentah (CPO) naik dua hari berturut-turut hingga Jumat (6/3/2026) dan mencatat kenaikan mingguan.
Harga Minyak Sawit (CPO) Melesat 8 Persen Pekan Ini. (Foto: Freepik)
Harga Minyak Sawit (CPO) Melesat 8 Persen Pekan Ini. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) naik dua hari berturut-turut hingga Jumat (6/3/2026) dan mencatat kenaikan mingguan, didukung penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian serta pelemahan ringgit.

Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup melonjak 3,80 persen ke level 4.365 ringgit Malaysia per ton.

Sepanjang pekan ini, harga CPO telah melambung 8,04 persen, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir pada 29 November 2024.

Analis sekuritas PhillipCapital dalam catatannya, dikutip Dow Jones Newswires, menyebutkan bahwa harga CPO menguat dalam perdagangan Asia, didukung kenaikan harga minyak mentah serta kekhawatiran terhadap pasokan di Timur Tengah.

Eskalasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terus mengganggu pasokan minyak dan mendorong harga lebih tinggi.

Harga energi yang lebih kuat juga dapat menopang minyak sawit mentah karena pasar minyak yang menguat meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai alternatif bahan bakar nabati.

Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,69 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melonjak 1,8 persen. Sebaliknya, minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,99 persen.

Harga minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena saling bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Sementara itu, mengutip Reuters, ringgit Malaysia, mata uang perdagangan kontrak tersebut, melemah 0,18 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat minyak sawit lebih murah bagi pemegang mata uang asing.

Meski demikian, pelemahan ekspor membatasi kenaikan harga. Lembaga survei kargo mencatat pengiriman Februari turun sekitar 21,5 persen hingga 22,5 persen dibanding Januari, meskipun ada pembelian menjelang Idulfitri.

Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis sejumlah data penting dari China pekan depan, termasuk inflasi konsumen (CPI), inflasi produsen (PPI), serta data perdagangan dari negara pembeli utama tersebut. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement