IDXChannel - Harga minyak dunia bergerak liar seperti roller coaster pada Senin (9/3/2026).
Lonjakan ini mendorong harga minyak ditutup di level tertinggi sejak 2022 setelah Arab Saudi dan sejumlah anggota OPEC lainnya memangkas pasokan di tengah meluasnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Namun, tak lama setelah penutupan perdagangan, harga berbalik melemah menyusul kabar percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Harga kemudian jatuh lebih jauh dalam perdagangan setelah penutupan (post-settlement trade), merosot lebih dari 5 persen setelah Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran tambahan sanksi terhadap minyak Rusia guna meredam harga energi global.
Sebelumnya, Putin menyatakan Moskow siap memasok minyak dan gas alam ke Eropa.
Secara terpisah, Trump dalam wawancara dengan CBS News mengatakan ia menilai perang melawan Iran “sudah sangat lengkap” dan Washington “sangat jauh lebih maju” dari perkiraan awalnya yang memproyeksikan konflik berlangsung empat hingga lima pekan.
Sepanjang sesi perdagangan Senin, harga minyak sempat melonjak hingga 29 persen. Saat penutupan, kontrak minyak Brent naik 6,8 persen ke USD98,96 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 4,3 persen menjadi USD94,77 per barel.
Kedua harga penutupan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2022.
Bahkan setelah terkoreksi dalam perdagangan setelah penutupan, kedua acuan minyak tersebut masih melonjak lebih dari 35 persen sejak perang Iran dimulai.
Pada puncak sesi, Brent sempat menyentuh USD119,50 per barel dan WTI mencapai USD119,48.
Angka itu merupakan harga intraday tertinggi bagi kedua acuan minyak sejak Juni 2022, mendekati rekor sepanjang masa (ATH) sebesar USD147,50 per barel untuk Brent dan USD147,27 untuk WTI yang tercatat pada Juli 2008.
Harga kemudian turun dari puncak yang disentuh pada perdagangan intraday tersebut karena sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran inflasi serta kabar bahwa AS dan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) tengah mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak strategis.
Unjuk Kekuatan Kelompok Garis Keras Iran
Selain gangguan pasokan energi, harga minyak juga terdorong naik setelah kelompok garis keras Iran menggelar unjuk kekuatan pada Senin.
Mereka turun ke jalan menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi baru Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang kemunculannya dipandang meredupkan harapan berakhirnya perang Timur Tengah secara cepat.
Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, mulai memangkas produksi di dua ladang minyaknya.
Langkah ini menambah pengurangan produksi oleh Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Qatar, di tengah pengiriman minyak yang terus terhambat serta keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Perang tersebut praktis menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia serta gas alam cair melalui laut.
Meski demikian, sebuah kapal tanker minyak yang dioperasikan perusahaan Yunani dilaporkan berhasil melintasi selat tersebut dengan membawa kargo minyak mentah Saudi, menandakan sebagian kapal komersial masih mencoba melewati jalur penting itu.
Perusahaan analisis data Kpler menyatakan bahwa sekalipun selat tersebut dibuka kembali pada Selasa, diperlukan waktu sekitar enam hingga tujuh pekan agar ekspor dari kawasan Teluk kembali pulih ke kapasitas penuh.
Saudi Aramco, yang dapat mengalihkan sebagian pengiriman melalui pelabuhan Laut Merah di Yanbu, menawarkan lebih dari 4 juta barel minyak mentah Saudi melalui tender langka untuk mengimbangi penutupan Selat Hormuz.
Seiring harga minyak berangsur turun dari puncak sesi, para analis menyebut beberapa faktor penyebabnya.
Di antaranya kemungkinan pelepasan minyak secara terkoordinasi dari cadangan strategis, kekhawatiran lonjakan harga energi akan memicu inflasi tinggi dan melemahkan pertumbuhan ekonomi, serta aksi ambil untung di pasar yang secara teknikal sudah berada di kondisi jenuh beli.
Trump diperkirakan meninjau sejumlah opsi untuk menekan harga minyak, termasuk kemungkinan kerja sama dengan negara lain untuk melepaskan minyak dari cadangan strategis.
Ia juga menyatakan akan menggelar konferensi pers setelah penutupan pasar pada Senin, namun tidak memberikan rincian mengenai topik yang akan dibahas.
Opsi lain yang tengah dipertimbangkan antara lain membatasi ekspor minyak AS, melakukan intervensi di pasar berjangka minyak, memberikan pembebasan sebagian pajak federal, serta mencabut ketentuan hukum yang mewajibkan bahan bakar domestik diangkut hanya menggunakan kapal berbendera AS. (Aldo Fernando)