IDXChannel - Harga minyak dunia turun sekitar 2 persen ke level terendah dalam sepekan pada Kamis (22/1/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melunakkan ancamannya terkait Greenland dan Iran, serta muncul sinyal positif yang berpotensi membuka jalan penyelesaian perang Rusia-Ukraina.
Minyak Brent melemah 1,8 persen dan ditutup di USD64,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 2,1 persen ke USD59,36 per barel, level terendah dalam sepekan.
Melansir dari Reuters, Trump menyatakan telah mengamankan akses penuh dan permanen Amerika Serikat ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO.
Kepala NATO mengatakan para sekutu perlu meningkatkan komitmen terhadap keamanan kawasan Arktik guna menangkal ancaman dari Rusia dan China.
Di sisi lain, para pemimpin Uni Eropa diperkirakan meninjau ulang hubungan dengan Amerika Serikat dalam pertemuan darurat pada Kamis.
Langkah ini menyusul ancaman Trump terkait tarif, bahkan aksi militer, yang mengguncang kepercayaan terhadap hubungan transatlantik, menurut para diplomat.
Kepala Analis Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai terjadi penurunan premi risiko terkait polemik Greenland, sementara risiko pasokan dari Iran juga berkurang.
Trump juga menyampaikan harapannya agar tidak ada lagi aksi militer AS di Iran. Namun, ia menegaskan Washington akan bertindak jika Iran kembali menjalankan program nuklirnya.
Iran, yang berada di bawah sanksi, merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak.
Dengan meredanya ketegangan terkait Greenland dan Iran, analis IG Tony Sycamore memperkirakan harga minyak bertahan di kisaran USD60 per barel.
Rusia dan Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan setelah pembicaraan dengan Trump di Davos bahwa ketentuan jaminan keamanan bagi Ukraina telah difinalisasi.
Namun, persoalan krusial mengenai wilayah dalam konflik dengan Rusia masih belum terselesaikan.
Trump menekan Ukraina untuk segera mengamankan perdamaian setelah hampir empat tahun perang, meskipun belum ada banyak indikasi Rusia ingin menghentikan pertempuran.
Kesepakatan damai yang diikuti pencabutan sanksi terhadap Rusia, produsen minyak mentah terbesar ketiga dunia, berpotensi menekan harga minyak dengan menambah pasokan ke pasar global.
Angkatan laut Prancis juga mencegat sebuah kapal tanker Rusia di Laut Mediterania yang diduga menjadi bagian dari “armada bayangan” untuk mengekspor minyak Rusia meski terkena sanksi.
Produksi minyak Rusia tercatat turun 0,8 persen menjadi 10,28 juta barel per hari tahun lalu, setara sekitar sepersepuluh produksi global, menurut data yang dirilis Kamis.
Di Venezuela, anggota OPEC lain yang juga terkena sanksi, perusahaan perdagangan Vitol dan Trafigura mengekspor bahan bakar minyak dalam skema yang didukung AS.
Selain itu, rancangan reformasi undang-undang hidrokarbon Venezuela akan memungkinkan perusahaan asing dan lokal mengelola ladang minyak secara mandiri melalui model kontrak baru, memasarkan produksi, serta menerima hasil penjualan meski hanya menjadi mitra minoritas perusahaan negara PDVSA.
Pemerintahan Trump juga mengizinkan China membeli minyak Venezuela, namun tidak pada harga “tidak adil” atau terlalu murah seperti sebelum AS mencabut dukungannya terhadap Presiden Nicolas Maduro, menurut seorang pejabat AS.
Peningkatan aliran minyak dari Venezuela dinilai dapat menekan harga minyak global.
Tekanan tambahan datang dari pemangkasan proyeksi kesehatan korporasi Eropa.
Namun, Kepala Eksekutif Saudi Aramco, Amin Nasser, menyatakan prediksi kelebihan pasokan minyak global sangat dibesar-besarkan, mengingat pertumbuhan permintaan masih kuat dan persediaan minyak dunia relatif ketat.
Harga minyak berjangka juga memperpanjang pelemahan setelah data menunjukkan lonjakan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan perusahaan energi menambah 3,6 juta barel minyak mentah ke dalam stok pada pekan yang berakhir 16 Januari.
Angka ini jauh melampaui perkiraan analis sebesar 1,1 juta barel dan juga lebih tinggi dari laporan American Petroleum Institute (API) sebesar 3,0 juta barel.
EIA dan API merilis laporan tersebut sehari lebih lambat dari biasanya karena libur Martin Luther King Jr. Day di AS pada Senin. (Aldo Fernando)