Situasi ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan upaya baru untuk membuka jalur bagi kapal tanker dan kapal lain yang terjebak di jalur vital perdagangan energi tersebut.
Pihak AS menyatakan telah menghancurkan enam kapal militer kecil milik Iran.
Sementara itu, sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab, yang juga menjadi lokasi pangkalan militer besar AS, dilaporkan terbakar akibat serangan rudal Iran.
Kepala makro global di Tastylive, Ilya Spivak, mengatakan pasar kini lebih dipengaruhi faktor makro ketimbang sentimen sektoral. Menurut dia, kemacetan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi memicu tekanan inflasi, sementara penguatan dolar turut menekan harga tembaga.
Dolar AS sendiri menguat didorong permintaan aset safe haven di tengah konflik yang berlanjut di Timur Tengah.
Pasar saham Asia melemah, sementara harga minyak terkoreksi namun masih bertahan di atas USD100 per barel.