IDXChannel - Harga tembaga melemah pada Rabu (15/7/2026), di tengah sikap hati-hati investor yang menimbang lemahnya kondisi makroekonomi China dengan meredanya inflasi Amerika Serikat (AS).
Kontrak tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,49 persen menjadi USD13.576,5 per metrik ton pada pukul 14.00 WIB.
Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) memangkas kenaikan sebelumnya dan naik tipis 0,12 persen ke level 104.220 yuan.
Data resmi menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China melambat ke level terendah dalam tiga setengah tahun dan berada di bawah ekspektasi pasar akibat lemahnya permintaan domestik.
Meski demikian, minat beli tembaga di China masih terbilang kuat. Hal itu tercermin dari premi tembaga Yangshan yang mencapai USD90 per ton pada Selasa, level tertinggi sejak Mei 2025.
Sebelumnya, harga tembaga di LME maupun SHFE sempat menguat setelah inflasi konsumen AS pada Juni melambat lebih besar dari perkiraan.
Data tersebut meredakan kekhawatiran bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, yang berpotensi menekan aktivitas ekonomi.
"Menurunnya peluang kenaikan suku bunga mendorong sentimen di seluruh sektor logam dasar," kata Senior Commodity Strategist ANZ, Daniel Hynes, dikutip Reuters.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengancam akan menutup seluruh jalur ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya, menurut laporan media Iran.
Ancaman itu muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz dan AS kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak.
Untuk aluminium, kenaikan di LME menyusut menjadi hanya 0,05 persen, sedangkan kontrak di SHFE turun 0,13 persen.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah, yang menyumbang sekitar 9 persen kapasitas peleburan aluminium global, serta menipisnya persediaan masih menopang harga.
Para konsumen juga mulai mencari sumber pasokan alternatif dan meningkatkan pembelian dari China, yang mencatat rekor ekspor aluminium tak tempa dan produk turunannya pada Juni.
Di antara logam lainnya di LME, harga seng turun tipis 0,03 persen, timbal melemah 0,48 persen, nikel turun 0,48 persen, dan timah merosot 1,43 persen.
Sementara itu, di SHFE, harga seng naik 0,2 persen, timbal turun 1,86 persen, nikel melemah 1,01 persen, dan timah naik 0,16 persen. (Aldo Fernando)