"Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan," tutur dia.
Perseroan mencatatkan EBITDA sebesar Rp2,76 triliun dengan nilai aset yang naik 6,75 persen menjadi Rp13,64 triliun.
Sementara itu, posisi liabilitas TINS sebesar Rp5,23 triliun, dan ekuitas meningkat 10,83 persen menjadi sebesar Rp8,41 triliun.
Dari sisi operasional, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn atau turun 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 19.437 ton Sn.
Hal tersebut disebabkan masih masifnya penambangan ilegal terutama pada lokasi pesisir oleh Ponton Isap Produksi (PIP) maupun tambang darat dan adanya penolakan masyarakat pada lokasi penambangan baru.