Penyesuaian tersebut mencakup aspek likuiditas dan free float, termasuk pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Sejumlah saham seperti Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) berpotensi mengalami penurunan bobot bahkan dikeluarkan dari indeks.
Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kualitas dan investability indeks, dan akan mulai efektif pada evaluasi mayor April 2026 yang berlaku pada Mei 2026.
Dari eksternal, sentimen global masih cenderung mixed. Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street ditutup melemah meskipun sempat menguat di awal sesi, dengan indeks Nasdaq Composite turun 0,89 persen dan S&P 500 melemah 0,41 persen.
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga pekan. Meski meredakan ketegangan, harga minyak global tetap tinggi, dengan minyak Brent naik 1,08 persen secara intraday ke level USD106,2 per barel.
Kenaikan harga energi juga memicu tekanan inflasi di kawasan, termasuk Jepang yang mencatat inflasi 1,5 persen secara tahunan pada Maret 2026. Hal ini turut membebani pergerakan bursa Asia Pasifik yang cenderung melemah terbatas, di mana indeks KOSPI turun 0,35 persen.