Secara year to date (ytd) hingga 3 Februari 2026, outflow asing telah mencapai sekitar 10 persen, dengan tekanan jual terutama terjadi pada saham-saham blue chip.
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari data makroekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month on month) pada Januari.
Namun secara tahunan, inflasi masih berada di level 3,5 persen (year on year), tepat di batas atas target Bank Indonesia yang berada di kisaran 1,5-3,5 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga barang sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya, tingkat harga secara keseluruhan masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Situasi tersebut dinilai tetap menekan daya beli masyarakat, sehingga berpotensi membatasi ruang penguatan pasar saham dalam jangka pendek.
Sementara itu, sentimen global juga cenderung kurang kondusif. Bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (3/2/2026), dengan indeks Nasdaq turun 1,43 persen dan S&P 500 terkoreksi 0,84 persen. Tekanan datang dari meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, termasuk di aset kripto.