Imam menambahkan bahwa pergerakan IHSG kemungkinan besar masih akan tertahan dalam rentang tersebut karena pasar cenderung reaktif terhadap setiap perkembangan informasi eksternal yang bersifat sulit ditebak (unpredictable).
Ketidakstabilan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20 persen distribusi minyak dunia, telah mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak hingga USD102 per barel. Kondisi fundamental yang ketat akibat menipisnya cadangan minyak di hub utama global diprediksi akan menjaga harga energi tetap tinggi secara struktural.
"Kalau kita tarik ke faktor global, memang sentimen utamanya masih didorong oleh dinamika geopolitik, khususnya konflik antara AS vs Iran. Situasinya cenderung tidak stabil, bahkan dalam waktu yang sangat dekat kita melihat perubahan narasi yang cepat, sempat ada pernyataan bahwa Selat Hormuz dibuka, tapi kemudian muncul lagi laporan gangguan hingga adanya tembakan terhadap kapal," ujar Imam.
Dari dalam negeri, perhatian utama tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan tingkat suku bunga guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal.
"BI kemungkinan masih akan tetap menjaga suku bunga acuan di 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi yang masih terkendali. Pasar juga akan mencermati tone kebijakan ke depan, terutama apakah ada perubahan sikap dalam merespons tekanan eksternal yang meningkat," kata Imam.