IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko melanjutkan pelemahan setelah menembus area support penting pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Analis memperkirakan indeks kini berpotensi bergerak menuju area 6.320 seiring derasnya arus keluar dana asing dan memburuknya sentimen makro.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.55 WIB, IHSG terkoreksi 4,32 persen ke level 6.432,96.
Indeks bahkan sempat jatuh lebih dalam hingga 4,38 persen ke posisi 6.428,93 pada sekitar pukul 10.00 WIB, menjadi level terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Tekanan jual terjadi di seluruh sektor dengan saham-saham konglomerasi dan perbankan berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp9,54 triliun dengan volume perdagangan 16,18 miliar saham. Sebanyak 720 saham melemah, sementara hanya 68 saham menguat.
Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, Senin (18/5), IHSG kini telah menembus area support krusial 6.870-7.020 yang mengonfirmasi sinyal bearish continuation bagi pergerakan indeks dalam jangka pendek.
Secara teknikal, struktur IHSG masih membentuk pola lower high dan lower low yang menandakan tekanan jual masih mendominasi pasar.
Selain itu, indikator MACD juga masih berada di zona negatif sehingga momentum pelemahan dinilai belum mereda.
BRI Danareksa memperkirakan area support berikutnya berada di kisaran 6.320 hingga 6.530. Selama IHSG belum mampu kembali menembus level resistance penting, arah tren indeks dinilai masih cenderung bearish.
Di pasar valuta asing, rupiah turut mengalami tekanan dan sempat melemah lebih dari 1 persen ke level Rp17.668 per USD pada perdagangan pagi. Pelemahan mata uang Garuda dinilai meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.
Tekanan terhadap pasar Indonesia juga dipicu keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham dari MSCI Standard dan Small Cap Index, serta langkah FTSE Russell yang masih menunda peningkatan status pasar Indonesia.
Dari eksternal, investor global juga cenderung menghindari aset berisiko setelah konflik AS-Iran kembali memanas dan mendorong harga minyak mentah tetap di level tinggi.
Selain itu, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dinilai belum menghasilkan kesepakatan besar yang mampu meredakan ketidakpastian ekonomi global.
Mayoritas bursa Asia pun bergerak melemah mengikuti meningkatnya sentimen risk off di pasar global. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.