Menurut analis, valuasi tersebut mencerminkan ekspektasi yang terlalu pesimistis karena pasar seolah telah memperhitungkan (price-in) skenario penurunan peringkat (bear rating) serta pertumbuhan laba yang negatif.
Padahal, sejumlah risiko yang sebelumnya membayangi mulai mereda.
Sekuritas itu menyoroti keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook Stabil pada Senin (13/7), serta keputusan MSCI yang tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok Emerging Markets, kendati keputusan final akan dilakukan pada November mendatang.
Bahkan, apabila pertumbuhan EPS sebesar 8 persen benar-benar terealisasi sementara valuasi tetap bertahan di level P/E 9,1 kali, IHSG diperkirakan masih berpotensi mencapai sekitar level 6.520.
Kondisi tersebut menunjukkan potensi kenaikan sekitar 8 persen dari level saat ini, sehingga profil risk-reward dinilai masih menarik bagi investor.
Dari sisi strategi investasi, BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor perbankan, telekomunikasi, logam, dan batu bara.