Kejatuhan mendadak IHSG ini terjadi setelah indeks acuan tersebut sempat mencetak rekor dengan menembus level 9.000 untuk pertama kalinya secara intraday pada perdagangan 8 Januari 2026.
Menurut catatan Ashmore Indonesia, penurunan tajam IHSG di awal pekan ini salah satunya dipicu laporan broker yang menyinggung potensi pelebaran defisit fiskal Indonesia melampaui 3 persen. Namun, Ashmore Indonesia menilai skenario tersebut relatif tidak realistis.
Ashmore Indonesia menjelaskan, peningkatan defisit fiskal di atas 3 persen memerlukan revisi undang-undang (UU) serta persetujuan DPR dan MPR yang melibatkan banyak partai politik.
Proses tersebut dinilai sulit dilakukan dalam waktu singkat tanpa pembahasan yang matang dan menyeluruh.
Selain itu, tekanan pasar juga diduga berasal dari aksi ambil untung sebagian investor menjelang pengumuman free float MSCI bulan ini.