Kondisi ini mendorong pelaku pasar global menghindari aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Tekanan berikutnya datang dari pelemahan nilai tukar rupiah. Prospek rupiah pada 2026 yang berpotensi berada di atas Rp16.800 per dolar AS memicu kekhawatiran akan arus keluar modal asing, sehingga menekan sentimen di pasar saham domestik.
Selain itu, aksi jual terjadi secara merata di hampir seluruh sektor, ditandai mayoritas saham berada di zona merah.
BRI Danareksa menilai kondisi ini bukan sekadar koreksi sehat, melainkan cenderung dipicu kepanikan pasar.
Dari sisi teknikal, meski IHSG telah terkoreksi sekitar 2 persen, tren jangka menengah masih tergolong bullish. Pelemahan saat ini dinilai lebih sebagai aksi ambil untung, dengan area support krusial berada di kisaran 8.700-8.775.