sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Sepekan Diprediksi Tertekan Akibat Dua Sentimen Ini, Berikut Empat Saham Pilihan Analis

Market news editor Anggie Ariesta
06/04/2026 07:50 WIB
IPOT mengungkapkan, lesunya pasar saham domestik dipicu oleh kombinasi sentimen ketidakpastian global dan kebijakan dalam negeri.
IHSG Sepekan Diprediksi Tertekan Akibat Dua Sentimen Ini, Berikut Empat Saham Pilihan Analis. (Foto iNews Media Group)
IHSG Sepekan Diprediksi Tertekan Akibat Dua Sentimen Ini, Berikut Empat Saham Pilihan Analis. (Foto iNews Media Group)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini diprediksi masih akan bergerak dalam zona merah seiring dengan adanya penyesuaian komposisi kepemilikan saham yang tinggi sesuai metodologi MSCI. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dengan rentang Support 6.700 dan Resistance 7.250.

Sebelumnya, IHSG menutup perdagangan pekan lalu di level 7.026, atau mengalami pelemahan sebesar 0,99 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Tekanan ini diperparah dengan aksi jual bersih (outflow) investor asing yang mencapai Rp2,8 triliun di pasar reguler.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengungkapkan, lesunya pasar saham domestik dipicu oleh kombinasi sentimen ketidakpastian global dan kebijakan dalam negeri. Dari sisi global, ancaman serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Iran di bawah pernyataan Presiden AS Donald Trump memicu kepanikan investor.

"Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek," ujarnya dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).

Dari dalam negeri, pelaku pasar tengah mencermati pengumuman Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait peningkatan bauran biodiesel menjadi 50 persen (B50) mulai 1 Juli 2026.

Kebijakan ini dikhawatirkan akan menyerap pasokan CPO secara berlebihan untuk energi, yang berisiko mengerek harga minyak goreng dan menekan daya beli masyarakat. Hal ini memberikan sentimen negatif, khususnya bagi sektor Consumer Goods.

Memasuki pekan 6-10 April 2026, investor diminta waspada terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah dan harga minyak mentah. Kombinasi keduanya dinilai menjadi beban ganda bagi ketahanan ekonomi nasional.

"Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis," kata David.

Lebih lanjut, dia menyoroti risiko pembengkakan subsidi energi jika harga minyak mentah terus bertahan di atas USD100 per barel.

"Tekanan ini diperparah oleh posisi Rupiah yang sempat menembus level Rp17.000 per Dolar AS yang secara otomatis meningkatkan biaya impor bahan baku dan memicu kenaikan inflasi domestik,” katanya.

Berikut rekomendasi saham IPOT untuk perdagangan sepekan ke depan:

1. Buy STAA (Current Price: Rp1.350, Entry: Rp1.350, Target Price: Rp1.460 (8,15 persen), Stop Loss: Rp1.295 (-4,07 persen), Risk to Reward Ratio 1:2.0).
2. ⁠Buy UNVR (Current Price: Rp1.930, Entry: Rp1.930, Target Price: Rp2.100 (8,81 persen), Stop Loss: Rp1.845 (-4,40 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.0).
3. ⁠Buy JPFA (Current Price: Rp2.440, Entry: Rp2.440, Target Price: Rp2.630 (7,79 persen), Stop Loss: Rp2.350 (-3,69 persen) dan Risk to Reward Ratio 1:2.1).
4. ⁠Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC) ( Entry Price: Rp810-Rp830, Take Profit 1: Rp854, Take Profit 2: Rp870 dan Stop Loss: Rp780).

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement