Artinya, tekanan yang biasanya muncul di Mei justru telah terjadi lebih awal.
Salah satu pemicunya adalah sorotan dari MSCI terkait aspek investability pasar Indonesia, terutama menyangkut transparansi dan struktur kepemilikan saham.
Isu ini sempat memicu kekhawatiran investor asing dan berpotensi menahan aliran dana masuk.
Merespons hal tersebut, otoritas pasar bergerak cepat dengan mendorong keterbukaan data hingga perbaikan struktur free float.
Dari sisi eksternal, pasar juga dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut menambah tekanan.
Lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman.