Sentimen negatif juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh level terendah sepanjang masa di kisaran Rp17.370 per USD.
Kondisi ini memperburuk sentimen terhadap aset berisiko di pasar domestik, sekaligus meningkatkan potensi arus keluar dana asing.
Dengan kombinasi faktor tersebut, pola sell in May tahun ini terasa kurang relevan dalam bentuk tradisional. Alih-alih menjadi awal koreksi, Mei justru datang setelah pasar mengalami penurunan tajam.
Dalam konteks ini, pelaku pasar mulai melihat apakah Mei akan menjadi lanjutan tekanan atau justru membuka peluang stabilisasi, terutama jika sentimen global mereda dan langkah reformasi pasar mulai mendapat respons positif dari investor.
Menurut catatan CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), sejumlah katalis terkait sentimen reformasi pasar modal perlu dicermati dalam waktu dekat.