“Rentetan kejadian ini membuat likuiditas bursa menurun, dan ini membuat pasar tidak berada dalam pergerakan yang lumrah,” imbuh Michael.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut masih dapat pulih apabila indikator ekonomi mulai membaik.
“Masa-masa sulit ini akan kembali pulih jika indikator-indikator ekonomi kita mulai membaik, mulai dari nilai tukar rupiah, kemudian approval MSCI terhadap reformasi bursa kita,” ujar dia.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas mencatat tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat.
Dari sisi global, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menembus di atas USD107 per barel atau naik sekitar 15 persen secara mingguan mengindikasikan pengetatan pasokan energi dunia, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.