BRI Danareksa Sekuritas menilai, pada Rabu (3/6), pelemahan indeks dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) pada sejumlah saham konglomerasi dan kapitalisasi besar, di tengah munculnya sejumlah sentimen makro yang kurang mendukung.
Dari sisi ekonomi, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April tercatat menyusut cukup tajam. Kondisi ini dinilai mencerminkan melemahnya kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, tingginya porsi kredit yang belum dicairkan (undisbursed loan) juga menunjukkan dunia usaha masih cenderung menahan ekspansi di tengah ketidakpastian.
Tekanan tambahan datang dari pasar energi. Harga minyak dunia yang masih relatif tinggi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus membebani nilai tukar rupiah.
Rupiah berada di level Rp17.858 per USD pada Selasa (2/6), masih di kisaran level terendah sepanjang masa.