Sebanyak 6,4 juta ton atau 43,5 persen dari total penjualan Kideco dipasarkan ke domestik, sedangkan 8,3 juta ton atau 56,5 persen diekspor. Perbaikan tersebut mendorong margin laba kotor Kideco meningkat menjadi 19 persen dari 14,2 persen pada semester I 2025.
Di sisi lain, pendapatan Indika Indonesia Resources melonjak 79,4 persen menjadi USD42,7 juta. Volume perdagangan batu bara meningkat 104 persen menjadi 539 ribu ton, sedangkan harga jual rata-rata naik 51,5 persen menjadi USD72,3 per ton seiring penjualan batu bara berkalori lebih tinggi. Perseroan juga mulai membukukan pendapatan USD3,8 juta dari perdagangan nonbatu bara, terutama bauksit melalui Mekko.
Segmen rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC) melalui Tripatra mencatatkan pendapatan USD167,4 juta, meningkat 41,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Interport membukukan pendapatan USD86,7 juta, naik 57,9 persen, terutama ditopang oleh peningkatan bisnis perdagangan bahan bakar.
Di tengah pertumbuhan pendapatan, harga pokok penjualan naik 17,2 persen menjadi USD965,8 juta. Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya cash cost Kideco di luar royalti menjadi USD37,3 per ton dari USD34,2 per ton pada semester I 2025, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar menjadi USD0,90 per liter dari USD0,67 per liter.
Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand mengatakan kinerja Semester I-2026 mencerminkan penguatan operasional di berbagai lini bisnis sekaligus konsistensi Perseroan dalam mempercepat transformasi portofolio usaha.