Namun, kalkulasi tersebut mulai berubah setelah serangan kembali terjadi. Iran pada Rabu menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz, sementara AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.
Perkembangan ini menandai eskalasi tajam dalam perang yang telah berlangsung selama enam bulan.
“Pergerakan Brent menuju dan kembali menembus USD100 mencerminkan pasar yang semakin harus mengubah pandangannya mengenai berapa lama krisis Timur Tengah akan terus menekan pasokan dari kawasan tersebut,” kata Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen, seperti dikutip Reuters.
Harga kontrak berjangka kini semakin mendekati kondisi di pasar minyak mentah dan bahan bakar fisik, di mana ketatnya pasokan telah terlihat sepanjang sebagian besar periode konflik.
Sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari, harga Brent sempat melonjak hingga USD126,41 per barel pada 30 April. (Aldo Fernando)