Produksi batu bara meningkat 9 persen secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan volume angkutan sebesar 8 persen menjadi 30,02 juta ton. Phintraco mencatat adanya lonjakan signifikan pada volume transportasi non-KAI, yang turut mendukung fleksibilitas distribusi perseroan.
Namun demikian, laba bersih PTBA tertekan 57 persen secara tahunan menjadi Rp1,4 triliun pada periode yang sama. Penurunan ini dipengaruhi oleh kombinasi pelemahan harga batu bara dan kenaikan biaya bahan bakar.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan pendapatan PTBA relatif stabil di level Rp42,9 triliun pada 2025, sedikit turun menjadi Rp42,0 triliun pada 2026, sebelum kembali tumbuh 4 persen secara tahunan menjadi Rp43,6 triliun pada 2027. Proyeksi ini mencerminkan ketahanan fundamental PTBA di tengah siklus harga batu bara yang lebih normal.
Berdasarkan pendekatan valuasi discounted cash flow (DCF), Phintraco Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi BUY untuk saham PTBA dengan target harga Rp2.800 per saham. Valuasi tersebut didukung oleh nilai enterprise value sebesar Rp32,3 triliun, yang dinilai menarik seiring prospek efisiensi biaya dan keberlanjutan kinerja perseroan.
“Dengan proyek logistik baru yang segera beroperasi, PTBA berpotensi menikmati penurunan biaya transportasi yang signifikan dan peningkatan efisiensi operasional, sehingga memperkuat daya saing di tengah dinamika industri batu bara global,” tulis Phintraco Sekuritas.
(DESI ANGRIANI)