"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai USD200 dalam beberapa hari mendatang," kata Jabbari.
"Amerika Serikat, dengan utang miliaran dolar, bergantung pada minyak di kawasan ini, tetapi mereka harus tahu bahwa bahkan setetes minyak pun tidak akan sampai kepada mereka," ujarnya.
Selat Hormuz, terletak di antara Iran dan Oman, adalah salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewatinya.
Mengutip Administrasi Informasi Energi AS, Selat Hormuz membawa 21 juta barel minyak per hari. Gangguan apa pun di sana akan semakin mendorong harga minyak mentah melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi regional.
(Dhera Arizona)