Chief Investment Office DBS Bank Joanne Goh dalam risetnya, pada 30 Januari 2026, menilai tekanan tersebut lebih dipicu oleh kebingungan pasar ketimbang memburuknya fundamental.
Saat ini, MSCI masih memberlakukan pembekuan sementara atas sejumlah perubahan indeks, namun telah menetapkan tenggat waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas dan pelaku pasar Indonesia untuk melakukan reformasi yang diperlukan.
Apabila langkah mitigasi tidak dijalankan, Indonesia berisiko mengalami penurunan bobot di indeks pasar negara berkembang (emerging market/EM), bahkan tidak tertutup kemungkinan diturunkan statusnya menjadi pasar frontier (frontier market/FM).
Menurut hemat Joanne, risiko ini menjadi sentimen negatif jangka pendek, meskipun secara fundamental prospek saham Indonesia dinilai tetap menarik.
DBS mencatat, pasar saham Indonesia diperkirakan mencatat pertumbuhan laba terkuat di kawasan ASEAN pada 2026. Kinerja tersebut ditopang oleh faktor domestik yang solid, valuasi yang relatif murah, serta imbal hasil dividen yang masih sehat.