Namun, ketidakpastian terkait status pasar membuat pergerakan saham domestik masih berada di bawah tekanan dalam waktu dekat.
Menurut Joanne, rencana penyedia indeks untuk meninjau ulang klasifikasi free float, yang telah diumumkan sejak tahun lalu, dinilai ikut menahan arus masuk dana asing. Hal ini tercermin dari rendahnya kepemilikan investor asing setelah arus keluar dana yang cukup konsisten sepanjang 2025.
Di sisi lain, sejumlah langkah penopang mulai bermunculan. Bank terbesar di Indonesia telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp5 triliun.
Beberapa konglomerasi besar juga tercatat memiliki mandat buyback yang berpotensi diaktifkan jika volatilitas berlanjut.
Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons cepat dengan menetapkan ketentuan free float minimum sebesar 15 persen bagi perusahaan terbuka.