Budianto menerangkan, refinancing dan pelunasan Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027 merupakan langkah strategis perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan profil keuangannya.
Transaksi ini memperpanjang jatuh tempo utang melalui fasilitas pinjaman baru bertenor 15 tahun, menyelesaikan refinancing secara proaktif lebih dari 18 bulan sebelum jatuh tempo, memperkuat likuiditas dan fleksibilitas keuangan, mengurangi risiko nilai tukar melalui penyelarasan mata uang pembiayaan dengan mata uang pelaporan perseroan, serta menurunkan risiko refinancing di tengah volatilitas pasar.
Di luar pos-pos yang bersifat non-berulang tersebut, perseroan tetap membukukan laba operasional sebesar Rp524,0 miliar pada semester I-2026, dibandingkan Rp822,8 miliar pada semester I-2026. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya pengakuan pendapatan dari penjualan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.
Budianto mengungkapkan, penurunan tersebut terutama mencerminkan lebih rendahnya pendapatan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal. Meskipun demikian, perseroan tetap membukukan laba operasional yang didukung oleh pertumbuhan berkelanjutan bisnis Infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang.