Meski demikian, Johan juga tidak menampik proyeksi pertumbuhan keuangan JECX tahun ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar domestik serta pergerakan kurs dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah.
Hal ini dikarenakan sebagian instrumen peralatan medis canggih dan obat-obatan khusus yang digunakan di jaringan JEC masih bersumber dari impor.
Fluktuasi nilai tukar valuta asing tersebut dipastikan akan berdampak langsung pada struktur biaya operasional perseroan, sehingga manajemen berkomitmen untuk terus meredam potensi lonjakan biaya melalui penerapan strategi efisiensi biaya secara ketat di seluruh lini usaha.
"Kami ketahui bersama bahwa tahun buku 2026 ini diproyeksikan penuh dengan tantangan ekonomi makro yang dinamis bagi industri. Namun, manajemen JECX berkomitmen penuh melakukan berbagai langkah strategis untuk menghadapi ketidakpastian tersebut," kata Johan.
"Kami melihat ruang pertumbuhan masih terbuka lebar dengan proyeksi pertumbuhan kinerja keuangan yang konservatif namun terukur berada di kisaran single digit hingga double digit rendah, sekitar 8 persen hingga 10 persen untuk tahun ini, yang disesuaikan dengan kapasitas penyerapan pasar," ujarnya.
(Dhera Arizona)