sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.065 per USD

Market news editor Anggie Ariesta
10/07/2026 15:55 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (10/7/2026), naik 63 poin atau sekitar 0,35 persen ke level Rp18.065 per USD.
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.065 per USD. Foto: iNews Media Group.
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.065 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (10/7/2026), naik 63 poin atau sekitar 0,35 persen ke level Rp18.065 per USD.

Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah berhasil menguat meski sentimen eksternal masih bergejolak. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir, dan memerintahkan serangan lebih lanjut terhadap negara tersebut, yang memicu tindakan balasan dari Teheran.

"Meskipun laporan Axios mengatakan bahwa mediator regional sedang berupaya menyelamatkan nota kesepahaman AS-Iran baru-baru ini, perdamaian di Timur Tengah tampak sepenuhnya tidak pasti," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Pertempuran yang kembali terjadi bertepatan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang telah meninggal, puncak dari prosesi pemakaman massal dan demonstrasi selama seminggu. Khamenei gugur pada hari pertama perang pada 28 Februari 2026.

Konflik tersebut telah menunda pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz, jalur air utama yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global setiap hari sebelum perang.

Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang didorong energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve.

Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada 2026 pekan ini, menurut CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63 persen pada pertemuan di September.

Di sisi lain, jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun minggu lalu, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tetap dalam mode “perekrutan lambat, pemecatan lambat”.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams mengatakan, inflasi masih terlalu tinggi, menambahkan bahwa Fed secara aktif membahas skenario seputar inflasi dan tetap berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.

Dari sentimen domestik, pasar merespons positif pernyataan International Monetary Fund yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,0 persen pada 2026.

IMF juga memproyeksikan bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh mencapai 5,1 persen pada 2027. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini berada di atas rata-rata pertumbuhan kelompok negara berkembang di kawasan Asia (Emerging and Developing Asia), yang diproyeksikan tumbuh melambat di level 4,8 persen pada 2026.

Selain itu, Asian Development Bank proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,2 persen pada 2026 dan 2027. ADB menilai prospek ekonomi Indonesia tetap stabil. Proyeksi 5,2 persen untuk 2026 ini tidak mengalami perubahan apabila dibandingkan dengan laporan ADO pada April lalu.

Kendati demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada tahun ini masih berada di bawah target pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah dan DPR menetapkan target pertumbuhan mencapai 5,4 persen.

Selain itu, Kenaikan penjualan mobil nasional sepanjang semester I-2026 dinilai belum bisa dijadikan bukti daya beli masyarakat telah pulih sepenuhnya. Meski penjualan kendaraan menunjukkan tren positif, pemulihan konsumsi rumah tangga dinilai masih berlangsung secara bertahap.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales atau distribusi dari pabrikan ke dealer mencapai 77.550 unit pada Juni 2026, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut melanjutkan pertumbuhan 14 persen pada Mei 2026, sekaligus menjadi bulan ketiga berturut-turut penjualan mobil mencatatkan pertumbuhan secara tahunan.

Secara kumulatif, penjualan mobil baru sepanjang semester I-2026 mencapai 436.564 unit, atau meningkat 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini mencerminkan permintaan konsumen yang tetap kuat meskipun masyarakat masih menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.060-Rp18.110 per USD.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement