sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

JKN Melambat, Segmen Swasta Pacu Pertumbuhan Emiten Rumah Sakit

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
11/09/2026 06:32 WIB
Segmen swasta diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan industri kesehatan Indonesia dalam jangka pendek di tengah tertundanya sejumlah katalis.
JKN Melambat, Segmen Swasta Pacu Pertumbuhan Emiten Rumah Sakit. (Foto: Magnific)
JKN Melambat, Segmen Swasta Pacu Pertumbuhan Emiten Rumah Sakit. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Segmen swasta diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan industri kesehatan Indonesia dalam jangka pendek di tengah tertundanya sejumlah katalis terkait program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Analis Indo Premier Sekuritas Nicholas Bryan dan Andrianto Saputra menilai prospek jangka panjang sektor kesehatan tetap menarik karena tingkat penetrasi layanan kesehatan di Indonesia masih rendah (underpenetrated).

Namun, dalam jangka pendek, pertumbuhan sektor akan lebih banyak ditopang pasien non-JKN seiring pengetatan rujukan JKN dan mundurnya implementasi sejumlah reformasi.

Dalam riset yang terbit pada 4 September 2026, keduanya mencatat belanja kesehatan Indonesia baru mencapai 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB), dibandingkan rata-rata negara peers sekitar 4 persen.

Di sisi lain, belanja kesehatan per kapita Indonesia tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 3,8 persen, lebih cepat dibandingkan Malaysia dan Thailand.

Pertumbuhan pendapatan yang dapat dibelanjakan, kenaikan anggaran pemerintah dengan CAGR 12,1 persen sejak 2015, serta meningkatnya kasus penyakit tidak menular atau non-communicable diseases (NCD) seiring populasi yang menua dinilai menjadi fondasi pertumbuhan struktural sektor kesehatan dalam jangka panjang.

Indo Premier memperkirakan emiten rumah sakit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat membukukan pertumbuhan pendapatan dengan CAGR 10,1 persen pada 2026-2028.

Namun, prospek jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian dari sisi JKN. Pengetatan rujukan yang berlangsung sejak kuartal III 2024 membuat pertumbuhan pendapatan JKN rumah sakit melambat.

Pada semester I 2026, pendapatan JKN rumah sakit tercatat hanya tumbuh 1,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh di bawah pertumbuhan pendapatan non-JKN yang mencapai 12,1 persen yoy.

Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut karena reformasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), Coordination of Benefits (CoB), dan Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG) dinilai belum akan terealisasi sebelum 2027.

"Karena itu, kami melihat segmen swasta tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan dalam jangka pendek," tulis Nicholas dan Andrianto.

Pergeseran tersebut mulai terlihat dari kinerja emiten rumah sakit.

Pada 2025, pendapatan segmen swasta secara agregat tumbuh 9,4 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan JKN sebesar 3,3 persen.

Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang kenaikan intensitas pendapatan rumah sakit sebesar 4,1 persen.

Menurut Indo Premier, investasi berkelanjutan pada teknologi robotik, peralatan medis, dan tenaga dokter spesialis membuat rumah sakit semakin mampu menangani kasus dengan intensitas layanan yang lebih tinggi.

Tren tersebut diperkirakan semakin penting seiring meningkatnya prevalensi kasus kompleks.

Indo Premier memproyeksikan intensitas pendapatan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) masing-masing tumbuh dengan CAGR sekitar 2 persen, 7 persen, dan 5 persen pada 2026-2028.

Strategi mengandalkan segmen swasta juga semakin relevan setelah pemerintah mengumumkan bahwa implementasi KRIS akan menggunakan sistem tiga kelas, bukan skema satu kelas seperti rancangan sebelumnya.

Indo Premier sebelumnya memperkirakan penerapan KRIS dengan skema satu kelas berpotensi meningkatkan pendapatan JKN emiten rumah sakit sekitar 8,8 persen.

Namun, perubahan desain kebijakan tersebut membuat analis menilai pergeseran menuju segmen swasta merupakan strategi yang lebih tepat bagi pelaku industri.

HEAL, misalnya, telah menyampaikan rencana untuk meningkatkan kontribusi pendapatan non-JKN menjadi 60 persen dalam beberapa tahun ke depan.

Angka tersebut masih di bawah MIKA dan SILO yang masing-masing telah memiliki kontribusi non-JKN sekitar 90 persen dan 84 persen.

"Menurut kami, pergeseran sektor secara luas menuju segmen swasta merupakan strategi yang tepat bagi rumah sakit," tulis Nicholas dan Andrianto.

Dengan prospek tersebut, Indo Premier memulai coverage sektor kesehatan atau healthcare dengan rekomendasi overweight. MIKA menjadi pilihan utama dengan rekomendasi beli dan target harga Rp2.850 per saham.

MIKA dinilai memiliki sejumlah keunggulan, terutama peningkatan intensitas pendapatan yang kuat, eksposur yang terbatas terhadap pendapatan JKN, serta valuasi yang dinilai mulai mencapai titik dasar (bottoming).

Meski demikian, risiko terhadap sektor tetap perlu dicermati, terutama jika pengetatan rujukan JKN berlangsung lebih lama, implementasi KRIS dan CoB kembali tertunda, serta meningkatnya tren masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement