AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Kabar Baik, Bank Sentral Tak Akan Naikan Suku Bunga dalam Waktu Dekat

MARKET NEWS
Kunthi Fahmar Sandy
Rabu, 24 November 2021 15:32 WIB
Inflasi yang naik biasa seiring dengan asset yang berisiko tinggi, namun tidak demikian untuk market obligasi
Kabar Baik, Bank Sentral Tak Akan Naikan Suku Bunga dalam Waktu Dekat (FOTO:MNC Media)
Kabar Baik, Bank Sentral Tak Akan Naikan Suku Bunga dalam Waktu Dekat (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Laporan pendapatan perusahaan yang kuat di kuartal ketiga menjadi pendorong di Wall Street pada bulan Oktober ini. Sebagian besar memprediksikan bahwa sektor swasta sedang berada di trajektori yang naik. 

"Inflasi yang naik biasa seiring dengan asset yang berisiko tinggi, namun tidak demikian untuk market obligasi. The Fed sebelumnya telah mengumuman bahwa dovish tapering akan dilaksanakan sebelum akhir November," kata Juky Mariska Wealth Management Head Bank OCBC NISP, Rabu (24/11/2021). 

Adapun program pembelian obligasi dikurangi sebanyak USD15 Miliar, dari yang sebelumnya USD120 Miliar per bulan ke USD105 Miliar. Kabar 

baiknya adalah Ketua The Fed, Jerome Powell, mengatakan bahwa bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga utama dalam waktu dekat, saat ini berada di 0.25% setidaknya sampai pasar tenaga kerja menunjukkan perbaikan yang signifikan. 

Sedangkan untuk pasar Asia bulan lalu, setelah terjadinya volatilitas penjualan, pasar ditutup sideways di level yang sama dengan saat awal 

bulan. Penghasilan korporasi di Asia tidak sebaik di negara maju, dan juga karena masih adanya sentimen negatif seperti naiknya angka COVID-19 di 

beberapa negara. 

"Namun, kontributor terbesar terhadap saham-saham Asia yang di bawah rata-rata adalah kekhawatiran terhadap krisis hutang yang dilakukan sektor properti China," sebut dia.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD