sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kembali Sentuh Level Rp18.000, Rupiah Sore Ditutup Melemah di Rp18.014 per USD

Market news editor Nia Deviyana
08/07/2026 15:56 WIB
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) dan kembali menembus level Rp18.000 per USD.
Kembali Sentuh Level Rp18.000, Rupiah Sore Ditutup Melemah di Rp18.014 per USD. Foto: iNews Media Group.
Kembali Sentuh Level Rp18.000, Rupiah Sore Ditutup Melemah di Rp18.014 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) dan kembali menembus level Rp18.000 per USD. Melansir Bloomberg, mata uang Garuda turun 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp18.014 per USD.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah lantaran tertekan sentimen ganda dari eksternal maupun dalam negeri.

Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan balasan atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz. Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah.

“Serangan tersebut juga terjadi tak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran untuk menjual minyak secara internasional, sebuah langkah yang dapat menandai pasar minyak yang lebih ketat dalam beberapa minggu mendatang,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Babak permusuhan baru ini berpotensi merusak kesepakatan yang sebelumnya diklaim berjalan sesuai rencana. Pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini semakin tidak pasti.

Sentimen lain datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun telah naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Meskipun demikian, pasar skeptis terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Juli mendatang, tetapi untuk September, kemungkinannya mendekati 60 persen, menurut CME FedWatch Tool.

Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Juni, yang akan dirilis Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed, sementara nada komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi fokus perhatian.

Dari domestik, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 mengalami defisit Rp 196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun realisasi pendapatan negara Rp.1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp.1.656 triliun. Realisasi defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB.

Sejumlah ekonom menilai posisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN, terutama jika dilihat dari dinamika yang berkembang di awal tahun. Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Kemudian, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi USD145,6 miliar dari USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026, tetapi tetap berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir. BI menjelaskan kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh bank sentral untuk merespons tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 masih berada pada level optimistis yaitu sebesar 117,8. Meski demikian, angka ini lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 120,9. 

Optimisme konsumen tersebut ditopang oleh tetap kuatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masing-masing tercatat sebesar 109,2 dan 126,4.

Dari berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, rupiah diproyeksi fluktuatif dengan nilai tukar rupiah diperkirakan melemah pada rentang Rp18.010- Rp18.060.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement