Kementerian ESDM Catat Rasio Elektrifikasi Capai 99,20% di 2020

Market News
Shifa Nurhaliza
1 hari yang lalu
Kementerian ESDM merilis capaian kinerja tahun 2020 di subsektor ketenagalistrikan. Rasio elektrifikasi tercatat mencapai 99,20%.
Kementerian ESDM Catat Rasio Elektrifikasi Capai 99,20% di 2020. (Foto : MNC Media)

IDXChannel - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis capaian kinerja tahun 2020 di subsektor ketenagalistrikan. Rasio elektrifikasi tercatat mencapai 99,20%. Jumlah rumah tangga yang berlistrik telah meningkat 14,85% dalam enam tahun terakhir. Tahun ini, Kementerian ESDM menargetkan rasio elektrifikasi mencapai 100%.

"Rasio elektrifikasi ini sedikit banyak terganggu, meskipun kita sudah targetkan 100% tetapi nyatanya baru bisa sampai 99,20. Sebagaimana arahan Bapak Menteri ESDM, tahun ini kita upayakan untuk benar-benar 100%. Meskipun kita tahu penambahan rumah tangga juga setiap tahunnya sekitar 1 juta, itu juga perlu kita consider untuk langsung bisa terlistriki," tutur Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana, dalam keterangan resminya, Rabu (13/1/2021).

Pemerintah juga tengah berfokus pada pengembangan infrastruktur Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Hingga Desember 2020 jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) telah mencapai 93 unit di 66 lokasi.

"Faktanya memang kita terhambat Covid-19, dari target 168, itu baru bisa terealisasi 93. Artinya hanya 55% yang terealisasi. Itu sebagai catatan kita ke depan, dengan berbagai insentif yang menarik, kita berharap jumlah SPKLU juga akan mengikuti jumlah kendaraan listrik," ungkap Rida.

Sementara, untuk penambahan pembangkit listrik mencapai 2.866,6 Megawatt (MW), transmisi listrik tercatat bertambah 2.648 kilometer sirkuit (kms), kemudian penambahan gardu induk dilakukan sebesar 7.870 Mega Volt Ampere (MVA).

"Sangat patut diduga ini semuanya lebih banyak karena Covid. Misalkan untuk pembangunan pembangkit, karena aktivitas di lapangan juga dibatasi apalagi di dalamnya ada keterlibatan tenaga kerja asing, maka kemudian terpaksa target COD dimundurkan. Kemudian itu membuat target tahun 2020 tidak sebagaimana yang kita targetkan di awal. Karena pembangkitnya mundur, di gardu induk dan transmisi biasanya ikutan. Terlihat dari sini juga tumbuhnya mirip-mirip, di antara 50%-60% penambahannya," imbuh Rida.

Rida juga menjelaskan, tidak tercapainya target ini dikarenakan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang menyebabkan konsumsi listrik pada sektor industri dan bisnis turun.

"Di rumah tangga [konsumsi listrik] naik, tetapi di industri dan bisnis turun drastis. Maka secara resultan konsumsi perkapita di tahun 2020 tidak sesuai dengan target. Tetapi masih cukup menggembirakan, mencapai 95% dari target," imbuh Rida.

Dirinci Rida, untuk pengembangan smart grid, pada 2020 telah mencapai target yakni di 5 lokasi. Sementara Reserve Margin sistem sebesar 30,10% atau melebihi target yang ditetapkan 25%. Investasi di subsektor ketenagalistrikan tercatat sebesar USD7,04 miliar atau 59% dari target USD 11,95 miliar.

Susut jaringan tenaga listrik tahun lalu hanya 8,39%, lebih rendah dari target sebesar 9,2%. Sementara untuk penurunan emisi CO2 pembangkit mencapai 8,78 juta ton atau hampir 2 kali lipat dari target 4,71 juta ton (186%).

Rata-rata efisiensi pembangkit mencapai 78,46%, hampir memenuhi target sebesar 78,88%. Untuk produksi tenaga listrik sebesar 272,42 TWh atau 80% dari target 339,082 TWh. Adapun jumlah pelanggan listrik melebihi target, yakni mencapai 78.663,155 ribu pelanggan. Untuk jumlah Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) ilegal memenuhi target, yakni di 3 regional. (*)

Baca Juga