IDXChannel – Saham emiten jasa ride hailing PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turun tajam pada Senin (4/5/2026), seiring tekanan sentimen dari kebijakan pemerintah yang memangkas komisi dari mitra pengemudi ojek online (ojol).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.47 WIB, saham GOTO turun tajam 7,41 persen ke level Rp50 per unit pada 09.47 WIB. Nilai transaksi mencapai Rp870,33 miliar.
Sebelumnya, pemerintah berencana memangkas batas komisi yang dapat diambil perusahaan ride-hailing dari mitra ojol.
Presiden Prabowo Subianto menyebut, potongan maksimal kini diturunkan menjadi 8 persen dari sebelumnya 20 persen.
Prabowo mengatakan, kebijakan tersebut telah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang baru saja ditandatanganinya. Aturan ini menjadi dasar hukum dalam penyesuaian skema pembagian pendapatan antara perusahaan aplikasi dan para pengemudi.
“Porsi pendapatan untuk pengemudi ditingkatkan dari 80 persen menjadi minimal 92 persen,” ujar Prabowo dalam pidatonya di Hari Buruh di Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Meski demikian, Prabowo belum merinci kapan aturan tersebut mulai berlaku efektif. Namun, kebijakan ini dipastikan akan berdampak langsung pada model bisnis perusahaan ride-hailing di Indonesia.
Selain pengaturan komisi, pemerintah juga mewajibkan perusahaan aplikasi untuk memberikan perlindungan kepada mitra pengemudi. Bentuknya mencakup asuransi kecelakaan dan jaminan kesehatan.
Aturan ini akan berlaku bagi pelaku industri ride-hailing, termasuk GoTo dan Grab, yang selama ini mendominasi pasar transportasi daring di Tanah Air.
Respons GoTo dan Grab
GOTO menegaskan komitmennya untuk mematuhi kebijakan pemerintah terkait perlindungan pekerja transportasi online yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026.
Direktur Utama/CEO GoTo, Hans Patuwo, menyatakan, dalam siaran pers, Jumat (1/5/2026), perseroan saat ini tengah melakukan pengkajian mendalam guna memahami detail implikasi serta penyesuaian yang diperlukan atas regulasi tersebut.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan semua pemangku kepentingan terkait sehingga GoTo/Gojek dapat terus memberi manfaat berkelanjutan kepada seluruh masyarakat terutama mitra driver dan pelanggan Gojek,” kata Hans, dalam keterangan resmi, Jumat (1/5).
Senada dengan GoTo, Grab Indonesia mendukung komitmen Presiden Prabowo dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini menjadi respons Grab terkait Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online.
Perpres itu mengatur agar platform maksimal hanya memotong 8 persen dari sebelumnya mencapai 20 persen. Dengan begitu, minimal 92 persen pendapatan diterima para pengemudi.
“Sebagai mitra jangka panjang dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, kami tetap berkomitmen mendukung visi pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (2/5/2026).
Neneng menambahkan, saat ini perusahaan sedang menunggu diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 mengenai Perlindungan Pengemudi Transportasi Online demi menelaah lebih dalam rincian kebijakan tersebut.
Menurut pandangannya, usulan mengenai struktur komisi yang baru tersebut merupakan sebuah transformasi fundamental terhadap pola operasional platform digital dalam fungsinya sebagai marketplace.
Saham Grab Holdings Limited (GRAB), yang melantai di Nasdaq, Amerika Serikat (AS), sudah terlebih dahulu melemah 3,93 persen pada Jumat (1/5) pekan lalu, tersengat kebijakan pembatasan komisi 8 persen di Indonesia.
Pembatasan tersebut secara efektif memangkas take rate platform di Indonesia hingga setengahnya, sehingga dinilai berpotensi menggerus sekitar 20 persen EBITDA Grab.
Grab Holdings dijadwalkan mengumumkan kinerja keuangan kuartal I 2026 pada 4 Mei, sebelum pembukaan pasar atau 5 Mei dini hari pukul 03.00 WIB.
Untuk kuartal I-2026, Grab diperkirakan membukukan pendapatan sebesar USD921,71 juta, dengan laba per saham (EPS) diestimasi mencapai USD0,02.
GoTo Cetak Laba Pertama Kali
Diwartakan sebelumnya, GOTO akhirnya mencatatkan laba bersih untuk pertama kalinya sejak berdiri. Pada kuartal I-2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp171 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp367 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut siaran pers perseroan, Selasa (28/4/2026) lalu, secara tahunan, kinerja ini mencerminkan perbaikan sebesar Rp538 miliar.
Perusahaan juga terus memperluas skala bisnisnya, terlihat dari jumlah Pengguna Bertransaksi Tahunan (ATU) yang tumbuh 22 persen menjadi 69 juta.
Dari sisi top line, pendapatan bersih naik 26 persen menjadi Rp5,3 triliun. Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan Gross Transaction Value (GTV) inti grup sebesar 65 persen menjadi Rp138 triliun, sementara total GTV mencapai Rp236 triliun atau naik 63 persen secara tahunan.
Profitabilitas operasional juga menunjukkan perbaikan. EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp907 miliar, meningkat 131 persen secara tahunan. Capaian ini menjadi awal yang kuat menuju target EBITDA setahun penuh di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Selain itu, GoTo mencatatkan arus kas bebas disesuaikan positif sebesar Rp1,3 triliun, mencerminkan perbaikan fundamental bisnis dan disiplin biaya. Dari segmen e-commerce, imbalan jasa dari PT Tokopedia tercatat sebesar Rp288 miliar.
Perusahaan juga mulai mengintegrasikan berbagai inisiatif kecerdasan buatan (AI) dalam satu strategi yang berfokus pada pelanggan. Langkah ini diarahkan untuk menekan biaya layanan sekaligus meningkatkan interaksi dan konversi pengguna. (Aldo Fernando)