sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kondisi Geopolitik Bepotensi Lambungkan Tarif Sewa Kapal, GTSI Siap Tambah Armada

Market news editor Taufan Sukma Abdi Putra
02/03/2026 19:54 WIB
Kebutuhan dunia terhadap ketersediaan kapal energi yang aman dan standby saat ini jauh melampaui ketersediaannya.
Kondisi Geopolitik Bepotensi Lambungkan Tarif Sewa Kapal, GTSI Siap Tambah Armada (foto: iNews Media Group)
Kondisi Geopolitik Bepotensi Lambungkan Tarif Sewa Kapal, GTSI Siap Tambah Armada (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT GTS Internasional Tbk (GTSI) meyakini adanya peluang besar di tengah tantangan meningkatnya eskalasi krisis energi global seiring pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Pasalnya, dengan adanya serangan dari AS dan Israel, Iran dilaporkan telah mulai menutup akses jalur navigasi strategis Selat Hormuz, yang selama ini berperan fital dalam jalur distribusi minyak global.

Karenanya, dengan latar belakang kondisi tersebut, GTSI justru meyakini adanya peluang emas bagi Perseroan untuk memaksimalkan keuntungan dari lonjakan permintaan angkutan logistik energi global.

Dalam pernyataan resminya kepada media, Senin (2/3/2026), manajemen GTSI mengaku tengah bersiap untuk segera melakukan penambahan kapasitas armada kapal dalam waktu dekat.

Aksi korporasi ini pun dinilai sebagai bentuk kesigapan manajemen GTSI dalam memaksimalkan peluang dari potensi bakal melambungnya tarif sewa kapal LNG di pasar internasional.

Menurut Direktur Utama GTSI, Yon Irawan, urgensi penambahan armada ini sejalan dengan status 'siaga satu' yang tengah melanda pasar energi dunia, sebagai imbas dari konflik militer antara Iran dan poros AS-Israel.

Sebagai informasi, selama ini keberadaan Selat Hormuz terbilang strategis dalam ekosistem energi global, dengan menjadi rute utama pengiriman 20 persen pasokan minyak dan Liquefied Natural Gas (LNG) global.

Sentimen kepanikan pasar ini langsung mengerek harga komoditas secara drastis pada akhir pekan lalu, di mana minyak Brent terpantau melesat 2,45 perseb ke level USD72,48 per barel, dan WTI naik 2,78 persen menjadi USD67,02 per barel.

"Aksi pemblokiran rute strategis ini adalah skenario ekstrem yang mengguncang ekonomi dunia. Ratusan kapal kini terpaksa membuang jangkar atau memutar jauh melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan," ujar Analis Energi dari MST Sydney, Saul Kavonic, dalam kesempatan yang sama.

Imbasnya, terjadi disrupsi logistik dan kelangkaan armada angkut di tengah lonjakan permintaan dari negara-negara importir energi di Asia.

"Di titik inilah rencana ekspansi armada GTSI menjadi langkah yang sangat krusial," ujar Kavonic.

Sebagai spesialis transportasi LNG dan penyedia infrastruktur regasifikasi (FSRU), tambahan kapal baru akan langsung memperbesar kapasitas GTSI untuk menyerap melimpahnya pesanan distribusi gas dengan tarif angkut (freight rate) yang sedang meroket tajam.

Kebutuhan dunia terhadap ketersediaan kapal energi yang aman dan standby saat ini jauh melampaui ketersediaannya.

Sementara , secara internal, rencana aksi korporasi penambahan armada juga diyakini sebagai puzzle penyempurna atas fundamental bisnis GTSI di awal Maret 2026.

Setelah sukses mengonsolidasikan struktur tata kelolanya agar sejalan dengan sang induk usaha, PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI), GTSI kini membuktikan mereka memiliki ruang gerak yang agresif sekaligus adaptif.

"Perpaduan antara momentum krisis geopolitik yang mengerek harga energi dan kesiapan infrastruktur logistik yang terus diekspansi ini menempatkan rekam jejak operasional GTSI sebagai salah satu fenomena fundamental paling solid untuk dicermati di sektor maritim tahun ini," ujar Kavonic.

(taufan sukma)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement