AALI
11250
ABBA
74
ABDA
6500
ABMM
750
ACES
1525
ACST
380
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1385
ADMF
8525
ADMG
177
ADRO
1180
AGAR
412
AGII
1360
AGRO
1355
AGRO-R
0
AGRS
358
AHAP
62
AIMS
138
AIMS-W
0
AISA
310
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
494
AKRA
3370
AKSI
735
ALDO
450
ALKA
232
ALMI
262
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/02/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
503.52
-0.74%
-3.78
IHSG
6241.80
-0.76%
-47.85
LQ45
944.75
-0.82%
-7.79
HSI
28980.21
-3.64%
-1093.96
N225
28966.01
-3.99%
-1202.26
NYSE
0.00
-100%
-15539.42
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,262
Emas
808,747 / gram

Koreksi Berturut-turut, Analis : IHSG Tunjukkan Level yang Wajar

MARKET NEWS
Hafid/Koran Sindo
Kamis, 28 Januari 2021 17:30 WIB
Koreksi yang terjadi berturut-turut disebabkan karena bubble. Ini terjadi sebelumnya ketika indeks terbang dari 6.000 menuju 6.500 di dua minggu pertama Januari
Koreksi Berturut-turut, Analis : IHSG Tunjukkan Level yang Wajar. (Foto : MNC Media)

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir perdagangan Kamis (28/1/2021) anjlok 2,12% atau 129,78 poin ke level 5.979,38. Sejatinya tren perdagangan IHSG berada di zona merah dan bergerak di rentang terendah 5.957,55 - 6.123,46.

Chief Economist TanamDuit, Ferry Latuhihin, menilai bahwa koreksi yang terjadi berturut-turut disebabkan karena terjadi bubble. Ini terjadi sebelumnya ketika indeks terbang dari 6.000 menuju 6.500 di dua minggu pertama Januari.

“Menurut saya koreksi sudah mencerminkan level yang wajar. Fair value," ujar Ferry saat dihubungi MNC Portal Indonesia, di Jakarta.

Ferry juga menambahkan bahwa Pemerintah tidak perlu ikut campur bereaksi. Dirinya justru memberi saran untuk memberikan kesempatan market mencari keseimbangannya. “Biarkan saja market bekerja sendiri. Saya masih yakin indeks akan menuju level 7.000 di akhir tahun ini. Karena pertumbuhan ekonomi kita yang akan mencapai angka 5,8% di tahun 2021 ini," ujarnya.

Menurut Ferry, dengan adanya vaksinasi baru akan menunjukkan hasilnya di kuartal kedua tahun ini dan saat itulah pertumbuhan ekonomi pun akan mengalami percepatan. "Tahun lalu saya proyeksikan indeks ke 6.000 sejak bulan Juni dan ternyata tercapai ke 6.000. Karena itu tahun ini saya perkirakan hit 7.000 di akhir tahun," katanya.

Sementara itu, pengamat ekonomi INDEF, Nailul Huda, menilai kondisi indeks sekarang kebalikan dari pekan lalu yang mengalami kenaikan drastis. Menurutnya ini menunjukkan kondisi investasi yang memang maksimal di level 6.450.

"Investor sudah tidak dapat melakukan pembelian lagi pada level di atas itu. Ada juga sentimen dari semakin buruknya pengelolaan pandemi di Indonesia. Sehingga investor memilih wait and see," pungkasnya. (FAHMI)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD