Perusahaan ini berada di bawah uangan Arsari Group, milik Hashim Djojohadikusumo, dengan berambisi menjadi pelopor perusahaan timah Net Zero Emission (NZE) pertama di dunia.
Dengan ambisinya tersebut, menurut Aryo, pihaknya telah memasang target agar pusat riset yang bakal dibangun kelak dapat menjadi basis pengembangan teknologi timah dan pengolahan logam tanah jarang yang selama ini masih terbatas di dalam negeri.
"Coba bayangkan, industri timah Indonesia itu sudah ada selama 150 tahun, namun kita tidak punya pusat riset timah. Makanya,(ketertinggalan) ini yang mau kita kejar," ujar Aryo.
Menurut Aryo, rare earth elements merupakan salah satu produk sampingan timah yang memiliki nilai strategis tinggi untuk masa depan industri global, terutama dalam mendukung transisi energi dan teknologi tinggi.
Beberapa unsur yang disebutkannya antara lain neodymium (NdPr) dan dysprosium yang dibutuhkan dalam berbagai perangkat teknologi dan industri energi.