Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecilkan dampak lonjakan harga minyak tersebut dan menyebutnya sebagai biaya yang perlu dibayar untuk menetralkan ancaman nuklir Iran.
Lonjakan harga minyak terjadi ketika lalu lintas kapal melalui Strait of Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas dunia, hampir terhenti sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Jepang, ekonomi terbesar keempat di dunia, juga merupakan pengimpor minyak mentah terbesar kelima. Sekitar 95 persen impor minyaknya berasal dari Timur Tengah, dan sekitar 70 persen biasanya melewati Selat Hormuz.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada 2 Maret bahwa negara tersebut memiliki cadangan minyak darurat yang setara dengan 254 hari konsumsi domestik. Menurut laporan Kyodo News, pemerintah juga mempertimbangkan untuk melepas sebagian cadangan strategis guna menstabilkan pasokan.
Sementara itu, Korea Selatan merupakan pengimpor minyak mentah terbesar keempat di dunia, sedangkan pengimpor terbesar secara global adalah China.