Pada 2022, konflik Rusia-Ukraina mendorong harga minyak dunia melonjak hingga sekitar USD130 per barel pada awal Maret. Meski kemudian mengalami volatilitas, harga minyak secara umum tetap berada di level tinggi selama sekitar empat bulan hingga pertengahan 2022 sebelum akhirnya mulai menurun pada paruh kedua tahun tersebut.
Penurunan harga minyak kala itu dipicu oleh intervensi pasokan dengan pelepasan cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve sebesar 180 juta barel.
Lalu terjadi fenomena demand destruction akibat kebijakan moneter ketat. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei 2022 dan melanjutkan pengetatan secara agresif untuk menekan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dalam episode tersebut, harga minyak mencapai puncaknya sekitar 12 hari setelah pengumuman invasi Rusia ke Ukraina.
Sementara itu, IHSG yang sempat menguat di awal lonjakan harga komoditas didukung kenaikan harga batu bara dan CPO akhirnya terkoreksi tajam dari puncaknya menuju titik terendah dalam rentang 15 hari kalender atau lima hari perdagangan bursa.