Kenaikan harga minyak turut memperkuat posisi dolar AS. Kontrak berjangka minyak Brent naik sekitar 2,7 persen menjadi USD90,51 per barel setelah pasukan AS menyerang dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak, sementara Iran membalas serangan terhadap pasukan AS di Yordania. Eskalasi ini mengaburkan prospek kesepakatan damai dalam waktu dekat dan meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi.
Di sisi lain, yen Jepang tetap berada di dekat level 160 per dolar yang menjadi sorotan pasar, dan kenaikan harga minyak menambah tekanan di seluruh kawasan.
Yen tetap berada di bawah tekanan meskipun ada ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dapat menaikkan suku bunga pada September. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun kembali mencapai level tertinggi sejak 1996, mencerminkan meningkatnya ekspektasi akan suku bunga domestik yang lebih tinggi.
Bessent mengatakan ia berharap Gubernur BOJ Kazuo Ueda akan "melakukan hal yang tepat" terkait kebijakan moneter dan berencana untuk menemuinya dalam pertemuan G20 di North Carolina. Pasar akan memantau diskusi tersebut dengan cermat setelah intervensi gabungan yang jarang terjadi berupa pembelian yen oleh Jepang dan Amerika Serikat pada Juli.
Naka Matsuzawa dari Nomura menyatakan bahwa pertanyaan kunci bagi pasangan mata uang USD/JPY adalah kapan faktor penggerak utamanya akan beralih dari tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS secara absolut ke selisih imbal hasil antara AS dan Jepang. Kembalinya perusahaan asuransi jiwa Jepang untuk berinvestasi pada obligasi domestik dapat memberikan dampak signifikan terhadap pasangan mata uang ini.