sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Membedah Potensi Mitratel (MTEL), Diuntungkan Ekspansi FWA

Market news editor Aldo Fernando
20/04/2026 10:10 WIB
Di tengah proyeksi bisnis menara telekomunikasi yang mulai memasuki fase matang, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) masih memiliki sejumlah potensi.
Membedah Potensi Mitratel (MTEL), Diuntungkan Ekspansi FWA. (Foto: Mitratel)
Membedah Potensi Mitratel (MTEL), Diuntungkan Ekspansi FWA. (Foto: Mitratel)

IDXChannel - Di tengah proyeksi bisnis menara telekomunikasi yang mulai memasuki fase matang, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel masih memiliki sejumlah potensi yang dinilai dapat menopang kinerja dan membuka peluang pertumbuhan ke depan.

Perhatian investor dan analis terhadap MTEL selama ini banyak tertuju pada tingkat tenancy ratio yang relatif lebih rendah dibandingkan pesaing.

Rasio tersebut tercatat sekitar 1,57 kali (x), dengan kontribusi wilayah Jawa sebesar 1,66x dan luar Jawa 1,5x.

Kondisi ini tidak lepas dari strategi perseroan di masa lalu yang agresif membangun infrastruktur jaringan secara luas, termasuk ke wilayah yang belum optimal secara komersial, demi mendukung pemerataan akses digital.

Seiring waktu, jaringan menara dan fiber yang tersebar hingga ke daerah tersebut mulai menunjukkan peran yang lebih signifikan, terutama dalam mendukung pengembangan  program Internet Rakyat dengan teknologi Fixed Wireless Access (FWA).

Wilayah luar Jawa yang sebelumnya dinilai memiliki keterbatasan monetisasi kini mulai dilihat sebagai area pengembangan layanan.

Kondisi ini membuka ruang bagi peningkatan tenancy ratio seiring potensi pertumbuhan permintaan di kawasan tersebut.

Layanan Fixed Wireless Access (FWA) sendiri membutuhkan jaringan pemancar yang luas untuk menjangkau wilayah yang belum terlayani fiber optik.

Dalam konteks ini, menara telekomunikasi menjadi infrastruktur utama, sehingga ekspansi FWA berpotensi mendorong peningkatan jumlah penyewa (tenant) pada menara yang sudah ada, terutama di luar Jawa.

Di sisi lain, dua operator Internet Rakyat, yakni PT Telemedia Komunikasi Pratama, anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), serta PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia), memasang target ekspansi yang cukup agresif.

WIFI menargetkan pembangunan 5.500 site FWA dengan potensi menjangkau 5 juta pelanggan.

Sementara, pemerintah menargetkan program Internet Rakyat dapat menjangkau hingga 34,5 juta rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah, yang turut membuka peluang peningkatan kebutuhan infrastruktur jaringan ke depan.

Analis OCBC Sekuritas Gani menilai, posisi MTEL sangat strategis dalam menangkap peluang ini.

Pemenang Internet rakyat cenderung tidak punya waktu untuk membangun tower yang cukup banyak dalam waktu singkat, ditambah biaya pembuatan tower juga cukup mahal.

“Pasar selama ini melihat tenancy rendah sebagai kelemahan. Padahal, dalam konteks FWA, itu justru ruang pertumbuhan. Ketika operator mulai agresif ekspansi ke luar Jawa, mereka tidak perlu membangun dari nol. Mereka tinggal masuk ke tower yang sudah ada, dan itu langsung meningkatkan tenancy,” kata dia.

Sebagai gambaran, teknologi FWA bekerja dengan menyalurkan akses internet dari jaringan backbone ke menara pemancar, lalu diteruskan ke pengguna melalui spektrum frekuensi 1,4 GHz.

Karakteristik frekuensi ini memiliki jangkauan relatif terbatas, sehingga perangkat pemancar umumnya ditempatkan pada ketinggian sekitar 25-35 meter untuk menjaga kualitas sinyal.

Dalam konteks pengembangan jaringan, Gani memperkirakan kebutuhan menara untuk mendukung layanan FWA di Indonesia dapat mencapai sedikitnya 8.000 unit.

“Memang tidak semua akan diambil MTEL, tapi dengan kekuatan tower terbanyak di Indonesia secara wajar mereka akan mendapatkan porsi lebih banyak,” ujarnya.

Gani memperkirakan, dengan tambahan sekitar 2.000 penyewa pada 2025, tenancy ratio MTEL dapat meningkat dari 1,52x menjadi 1,57x. Dengan asumsi tersebut, ia menilai rasio ini berpotensi menembus level 1,6x apabila program FWA berjalan optimal.

Ia juga menambahkan, karakter bisnis menara yang berbasis shared infrastructure membuat setiap kenaikan tenancy ratio berdampak signifikan terhadap profitabilitas.

Hal ini karena biaya operasional menara, seperti pemeliharaan dan kebutuhan dasar, cenderung relatif tetap, baik digunakan oleh satu maupun beberapa penyewa.

“Ini yang sering disebut sebagai operating leverage di bisnis tower. Cost-nya relatif flat, tapi revenue naik setiap ada tenant baru. Jadi peningkatan tenancy, terutama di area yang sebelumnya underutilized, bisa langsung mengerek margin,” tutur Gani.

Mitratel memiliki eksposur yang cukup besar di luar Jawa, dengan sekitar 59 persen portofolio menara berada di wilayah tersebut.

Distribusi ini sebelumnya dipandang sebagai bagian dari strategi ekspansi jangka panjang, namun kini mulai terlihat sebagai posisi yang berpotensi mendukung peluang pertumbuhan, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur untuk layanan FWA.

Pada 2025, MTEL membukukan pendapatan Rp9,53 triliun, tumbuh 2,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Segmen penyewaan menara (tower leasing) masih menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp7,79 triliun atau naik 2,2 persen.

Sementara itu, segmen fiber optic mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 18,1 persen menjadi Rp574 miliar.

Kinerja tersebut mendorong EBITDA perseroan mencapai Rp7,84 triliun, dengan margin yang relatif stabil di level 82,2 persen.

Laba bersih tercatat sebesar Rp2,11 triliun. Hingga akhir 2025, MTEL memiliki 40.230 menara dengan total 63.084 tenant, serta jaringan fiber optic yang disewakan sepanjang 70.618 kilometer. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement