Namun, harga kemudian terkoreksi seiring munculnya peluang perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal November.
Ryan menilai arah harga minyak masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Jika konflik berlanjut, harga Brent berpotensi menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, bahkan melampaui USD150 per barel.
Risiko tersebut diperkuat oleh tingginya diesel crack spread yang saat ini mencapai USD95 per barel serta menipisnya cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS dan Jepang.
Sebaliknya, tercapainya kesepakatan damai dapat mendorong harga Brent turun tajam ke kisaran USD60-USD70 per barel.