Namun, Iran membantah adanya pembicaraan langsung, mencerminkan kontradiksi yang kerap muncul dalam setiap pemberitaan de-eskalasi konflik.
Trump juga menunda ancamannya menyerang infrastruktur energi Iran, sementara The New York Times melaporkan bahwa AS telah mengirim proposal 15 poin untuk mengakhiri perang.
Lonjakan harga minyak belakangan ini dinilai lebih dipicu ketegangan geopolitik dibandingkan faktor fundamental permintaan dan pasokan tradisional, dengan Selat Hormuz yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak global menjadi titik kritis.
Gangguan di kilang utama Timur Tengah dan ekspor LNG yang terhambat menambah tekanan pada distribusi energi global.
Analis perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam catatannya menyebut pergerakan harga minyak akan terus berfluktuasi mengikuti perkembangan perang Iran.