IDXChannel - Pasar modal Indonesia menutup 2025 dengan capaian yang menarik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat reli tajam dan menembus rekor tertinggi, namun kinerja saham-saham unggulan justru tertinggal.
Memasuki 2026, peluang pemulihan terbuka lebar, terutama jika reformasi BUMN dan dorongan kebijakan fiskal mampu dieksekusi secara konsisten.
Dalam Danantara Indonesia Economic Outlook 2026, Danantara menilai pasar modal Indonesia berada di titik balik.
Setelah dua tahun tertinggal dari bursa negara berkembang lain, kombinasi pelonggaran moneter dan stimulus fiskal diyakini dapat menghidupkan kembali pertumbuhan laba emiten, khususnya saham-saham berfundamental kuat.
Sepanjang 2025, IHSG melonjak sekitar 20 persen dan menyentuh level 8.710 pada awal Desember, menjadi performa tahunan terbaik dalam 12 tahun terakhir.
Namun, indeks LQ45, yang berisi saham-saham likuid dan berkapitalisasi besar, kembali tertinggal dibandingkan indeks regional. Tekanan makro, lemahnya permintaan domestik, serta kinerja laba bank-bank BUMN dan Telkom menjadi faktor utama.
Danantara mencatat, dominasi investor asing pada saham-saham blue chip membuat pasar rentan terhadap arus keluar dana saat ketidakpastian global meningkat. Akibatnya, valuasi saham berfundamental baik ikut tertekan, meski kondisi bisnis emiten relatif solid.
Meski demikian, sinyal perbaikan mulai terlihat. Ekspektasi penurunan laba tidak lagi berlanjut, sementara belanja fiskal yang lebih agresif pada 2026 dinilai dapat menjadi bantalan kinerja.
Program makan bergizi gratis (MBG), insentif pajak, serta penyaluran kredit melalui bank-bank BUMN berpotensi mendorong konsumsi dan pembentukan kredit domestik.
Dari sisi valuasi, aset rupiah dinilai berada di level yang menyerupai kondisi krisis. Indeks IDX30 tercatat diperdagangkan sekitar 1,1 standar deviasi di bawah rata-rata historisnya, lebih murah dibandingkan bursa negara berkembang lain.
Dengan imbal hasil saham yang mulai bersaing dengan obligasi pemerintah, risiko dan potensi imbal hasil ekuitas dinilai semakin menarik, terutama bagi investor institusi pencari dividen.
Sejumlah BUMN tercatat menawarkan imbal hasil dividen di atas 8 persen, sebuah daya tarik tersendiri di tengah tren penurunan suku bunga.
Posisi investor asing yang masih relatif ringan juga dinilai membatasi risiko penurunan lebih lanjut, sekaligus membuka ruang kenaikan jika arus dana kembali masuk.
Di luar faktor makro, reformasi BUMN menjadi narasi penting pasar modal 2026. Danantara menegaskan bahwa restrukturisasi BUMN bukan sekadar siklus bailout, melainkan penataan operasional dan neraca keuangan dengan disiplin ketat. Fokus utamanya adalah konsolidasi, peningkatan efisiensi, serta akuntabilitas kinerja.
Sejumlah sinyal awal telah diterima positif pasar. Saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Timah Tbk (TINS), hingga PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menunjukkan reli signifikan sepanjang 2025, mencerminkan kepercayaan investor terhadap agenda perbaikan.
Telkom, misalnya, mencatat lonjakan harga saham lebih dari 30 persen setelah melakukan perampingan anak usaha dan fokus pada pemanfaatan aset yang lebih efisien.
Untuk sektor perbankan BUMN, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), perhatian investor bergeser ke kualitas laba dan alokasi modal.
Dengan biaya dana yang menurun dan kredit yang berpotensi tumbuh, 2026 diproyeksikan menjadi tahun pemulihan kinerja yang lebih solid.
Danantara juga menyoroti konsolidasi besar-besaran BUMN, sejalan dengan target pemerintah memangkas jumlah BUMN dari lebih 1.000 menjadi sekitar 200 entitas.
Langkah ini dinilai sebagai proses jangka menengah yang bertujuan menciptakan tata kelola lebih sederhana, keputusan bisnis yang konsisten, serta potensi dividen yang lebih berkelanjutan bagi negara dan investor.
Dengan total aset BUMN yang setara lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, keberhasilan restrukturisasi akan berdampak luas bagi perekonomian dan pasar keuangan.
Efisiensi operasional BUMN diharapkan mengurangi ketergantungan pada dukungan fiskal dan memperkuat daya tahan ekonomi menghadapi gejolak global.
Danantara menyimpulkan, potensi re-rating pasar modal Indonesia pada 2026 akan sangat ditentukan oleh tiga faktor: efektivitas kebijakan fiskal dan moneter, keberhasilan reformasi BUMN, serta percepatan reformasi pasar modal untuk meningkatkan likuiditas.
Jika ketiganya berjalan seiring, pasar modal Indonesia berpeluang memasuki fase pemulihan yang lebih berkelanjutan.
“Rekam jejak ketangguhan Indonesia sudah lama tercatat dengan baik. Pasar modal mampu pulih dari Krisis Keuangan Asia 1997, bertahan menghadapi Krisis Keuangan Global 2008, serta bangkit kembali setelah guncangan pandemi Covid-19 pada 2020,” kata Danantara.
Danantara melanjutkan, “Perekonomian nasional juga telah melewati lima siklus pemilihan presiden secara langsung dan berbagai transisi politik di tingkat daerah, tanpa mengganggu kesinambungan laju pertumbuhan ekonomi.” (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.